Sabtu, 13 Juni 2009

Archaeopteryx adalah hewan primitif yang tinggal sekitar 150 juta tahun yang lalu. Hewan ini adalah reptil primitif (bukan burung). Namun, ia memiliki tampilan seperti campuran diantara burung dan reptil.

Fosil Archaeopteryx pertama ditemukan pada 1861 di Solfhen, Jerman. Fosil hewan ini sangat langka, hal ini dikarenakan tulang Archaeopteryx memiliki struktur tulang bagian dalam yang berongga, struktur semacam ini mempermudah ia untuk melayang. Akan tetapi, struktur semacam ini membuat tulang mudah hancur saat tulang Archaeopteryx mengalami proses fosilisasi."

Archaeopteryx diyakini sebagai nenek moyang burung. Namun, tidak seperti itu keturunannya, Archaeopteryx tidak bisa terbang karena Archaeopteryx memiliki otot dada yang lemah, sangat berbeda dari burung modern yang memiliki otot dada yang kuat. Hewan ini menggunakan sayapnya yang kedap udara untuk melayang di udara dari pohon ke pohon lain. Disamping itu, Archaeopteryx memiliki struktur kaki dan tumit yang menunjukkan kecocokan struktur kaki Archaeopteryx untuk berjalan, ini menunjukkan bahwa kaki Archaeopteryx dapat berjalan dengan baik di tanah.

Archaeopteryx dikenal sebagai hewan pertama yang memiliki bulu di tubuh. Banyak ahli paleontologi percaya bahwa bulu Archaeopteryx adalah transformasi dari sisik panjang suatu reptil yang bertransformasi karena beberapa bagian dari sisik yang berpindah dan berkembang seperti barbs (duri), tulang, bristles (bulu kecil yang kaku), dll Kemudian, sisik yang panjang ini menjadi ringan, elastis, tetapi kuat yang bernama bulu.

Penggunaan bulu ini menjadikan sayap Archaeopteryx menjadi sangat kedap udara dan membuat Archaeopteryx mampu mengapung di udara tanpa ada masalah dengan sayapnya. Jenis sayap ini benar-benar berbeda dari "sayap berselaput" yang digunakan oleh "Pterodactylus", suatu jenis reptil primitif yang lebih tua daripada Archaeopteryx. Jenis sayap berselaput seperti ini mudah rusak, terutama pada saat sayap berselaput ini robek, reptil bersayap tersebut menjadiu tidak bisa terbang dan akan mati karena kelaparan. Archaeopteryx dan burung yang lain tidak mempunyai masalah seperti ini. Itu karena bulu Archaeopteryx dan burung lain mudah berganti dengan yang baru.

Dengan penemuan fosil Archaeopteryx ini sangat membantu banyak peneliti. Karena dengan ditemukannya fosil Archaeopteryx, maka secara otomatis menghubungkan rantai evolusi yang hilang antara reptil dan burung.

Comments :

4 komentar to “ ”

Cupu^_^Kisruh mengatakan...
on 

nambah pengetahuan lagii nie ..
thank info nya mas :)

GAURAV mengatakan...
on 

nice blog

Anonim mengatakan...
on 

archaeopteryx ttp seekor brg. ga ad hub reptil sm brg. reptil ttp reptil brg ttp brg.ada cnth brg pd jmn ini yg mrip archaeopteryx,nmnya hoatzin.dia pnya gigi pd paruh dan cakar pd syp.gigi dan cakar tsbt bkn brrt dia asalny reptil.Tuhan mnciptkn makhluk tnpa evolusi.BACA SITUS HARUNYAHYA BIAR LBH JLS !!

randy mengatakan...
on 

Hi, Nice post thanks for sharing. Would you please consider adding an intro to my website on your next post? I will return the favor. Please email me back. Thanks!

Randy
randydavis387 at gmail.com

Gadgets

Posting Komentar

 

Copyright © 2009 by FAKTA SAINS MODERN